Man jadda wajada (Catatan tentang Negeri5Menara)

23 Sep 2009

Kawan..

Kemarin aku menyelesaikan membaca buku yang menggugah, mungkin sebagian kalian udah pada familiar dengan judulnya walaupun masih banyak yang belum sempat membacanya. ini aku simpulkan karena belum ada review mengenai buku ini di blog detik tercinta…:).

Pertama-tama yang membuat aku tertarik adalah idiom yang aku pakai sebagai judul tulisan ini. Man jadda wajada. Terus terang idiom ini tak terasa asing bagiku, karena saat masih kecil seringkali terucap dari mulut ibu dan kakakku. Barang siapa yang mau berusaha pasti akan mendapatkan hasilnya. Suatu idiom yang secara tak sadar menjadi penuntun dalam menjalani kehidupan.

Berikutnya adalah gambaran kehidupan ala pesantren. Walaupun aku punya beberapa teman yang lepasan pondok pesantren, dan akupun pernah menghabiskan waktu seharian di sebuah pesantren modern yang ada di kampungku, namun terus terang kehidupan ala pesantren memang sangat asing bagiku. Beberapa kali aku mendengar pengalaman mereka yang dihukum dibotaki karena melakukan pelanggaran seperti menonton bioskop tanpa izin atau berkelahi, namun tetap aku tak paham bagaimana kehidupan yang sebenarnya di pondok. Saat aku SD ada seorang anak dari kampun sebelah yang sekolah ke Pesantren Gontor, masih ku ingat bagaimana pujian dan sanjungan yang diberikan kepadanya diulang-ulang di hadapanku, padahal anaknya sendiri tak pernah dikenal oleh mereka…:)

Buku dengan judul Negeri 5 Menara bercerita tentang pengalaman seorang anak bernama Alif Fikri yang berasal dari kampung yang jauh di kabupaten Agam ditepi Danau Maninjau di Sumatera Barat. Alif bertutur tentang bagaimana mulanya dia merasa dipaksa untuk melanjutkan pendidikan disekolah agama oleh sang bunda tercinta. Seorang ibu yang teguh pedirian dengan tekad kuat akan mempersembahkan keturunan terbaiknya demi kemajuan agama (sesuatu yang telah terkikis pada pikiran orangtua masa sekarang).

Di Pondok Madani (Gontor) di daerah Ponorogo inilah dia harus bersaing memperebutkan 400 kursi dari 2000 pendaftar. Disini dia menemukan teman-teman senasib yang berasal dari berbagai daerah, ada Said dari Surabaya, Atang dari Bandung, Baso dari Makasar, Raja dari Medan dan Dulmajid dari Meduro..:). Teman yang dipersatukan oleh rasa senasib-sepenanggungan untuk dapat menjalani kehidupan pondok yang berat. Ternyata kehidupan pondok benar-benar berat, misalnya mereka diharuskan bisa berbahasa Arab dan Inggris dalam waktu 3 bulan. (Sesuatu yang hampir mustahil menurutku, karena aku yang telah 15 tahun belajar bahasa Inggis sampai sekarangpun masih belum ada kemajuan..:). Disinilah kata-kata mantra diatas terbukti. Dengan upaya yang sungguh sungguh ternyata hal itu bisa dicapai.

Pengalaman selama empat tahun di pondok dipenuhi dengan cerita enam bulan pertama dan enam bulan terakhir, karena dimasa inilah yang paling mengesankan, dimana masa awal adalah masa mereka dipimpin dan masa2 akhir adalah saat mereka yang menjadi pemimpin. Selama empat tahun ini mereka mendapatkan pelajaran penting bukan hanya tentang ilmu yang ada dikurikulum pondok, namun juga bagaimana mereka menyaksikan keikhlasan para kyia dan ustad yang mengasuh mereka. Bagaimana seorang ustad yang telah bergelar Doktor dari Al Azhar rela mengabdi tanpa bayaran untuk pesantren ini, seperti yang dikatakan sang Ustad bahwa dia telah mewakafkan dirinya untuk kepentingan Pesantren, masyaAllah. (ya Allah, betapa jauh jarak antara aku dan Engkau, karena aku masih senantiasa melakukan hitung-hitungan dengan-Mu).

Aktivitas yang dimulai dari pukul 4.30 pagi hingga berakhir pukul 21.30 malam dipenuhi dengan kegiatan2 yang benar-benar bermanfaat. Terus terang, aku pernah merasakan saat-saat berat dalam proses menuntut ilmu, namun jika dibanding dengan mereka, harus aku akui jika ternyata upaya yang aku lakukan masih belum pantas untuk diperbandingkan dengan mereka yang rata-rata masuk ke pondok setelah tamat SMP. Cerita tentang bagaimana mata-mata pondok senantiasa mengawasi untuk mendisiplinkan mereka karena kesalahan kecil seperti memotong antrian mandi, makan ataupun karena menggunakan bahasa selain Arab dan Inggris menjadi bagian yang mengasikkan dalam buku ini.

Sebagaimana pada cerita Laskar Pelangi, terdapat juga keharuan pada cerita ini, terutama saat ada diantara temannya yang harus pulang disaat-saat terakhir karena harus merawat neneknya yang sakit. Walaupun keharuan pada buku ini tak sempat membuatku meneteskan air mata sebagai mana saat Lintang harus meninggalkan bangku sekolahnya di buku Laskar Pelangi, atau saat Jimbron menyerahkan celengan kudanya kepada Ikal dan Arai di buku Sang Permimpi. Untuk yang ini A. Fuadi masih harus belajar pada Bung Andrea Hirata. Hanya saja, keunggulan buku ini terletak pada jalan cerita yang terasa sangat natural, tidak seperti yang terjadi pada Laskar Pelangi dengan kecerdasan Lintang yang tak masuk akal (mohon maaf Bung Andea..:).

Membaca buku ini, membuat kita mempertanyakan kembali tentang apa sebenarnya yang menjadi tujuan kita dalam hidup, mengingatkan kita akan dangkalnya pemahaman kita atas agama yang kita anut, serta menggugat sifat hedonis dan materialis yang selama ini menggerogiti sumsum kehidupan kita. Membaca buku ini juga membangkitkan semangat kita bahwa kita semestinya tak perlu takut untuk bermimpi, karena selama kita senantiasa berusaha keras untuk mewujudkannya, Insya Allah mimpi2 itu akan berbuah realita.

Buku ini merupakan buku pertama dari Trilogi yang direncanakan, sang pengarang yang merupakan bekas wartawan Tempo telah melakukan tugasnya dengan sangat baik dengan cara penulisannya yang sangat mempesona yang membuat aku tak rela melepas buku ini sebelum habis kubaca dan aku sudah tak sabar untuk membaca lanjutan kisahnya.

Akhirnya hanya ini yang dapat aku katakan :

Negeri5Menara : A MUST READ BOOK!!!!!!

Salam


TAGS


-

Author

Follow Me