Terima kasih Gus Dur

Januari 2nd, 2010 | Renungan, Tak Berkategori | 10 comments

Kawan..

Tahun 2009 ditutup dengan kabar yang cukup mengagetkan kita semua. Saat sedang meeting di kantor, tiba-tiba handphone ku bergetar, sebuah SMS masuk mengabarkan bahwa Gus Dur telah berpulang. Spontan aku mengucap Innalillah wa inna ilaihi rajiun. Si bos bertanya, “siapa yang meninggal?”. “Gus Dur!” jawabku. Semua yang diruangan terdiam sejenak dan masing-masing larut dalam doa di hatinya.

Semua kita pasti punya kesan masing-masing mengenai tokoh yang satu ini. Namun bagiku terasa ada yang agak berbeda. Mengapa? Karena dialah satu-satunya mantan presiden yang pernah aku temui lansung saat beliau masih menjabat. Pertemuan terjadi bukan di Istana Negara yang olehnya dirubah dari semula sangat protokoler menjadi rumah rakyat yang boleh dimasuki oleh rakyat kebanyakan. Namun yang mengesankan adalah aku dan teman-teman bertemu beliau dalam suatu acara pertemuan Mahasiswa Aceh Perantauan yang diselenggarakan di Bandung tahun 2001.

Apa yang paling berkesan buatku adalah caranya yang sangat efektif menaklukkan kami. Aku ingat bagaimana saat itu mayoritas dari teman-teman sangat anti kepada pemerintah pusat, kehadirannya sendiri membuatku kagum. Bagaimana seorang presiden yang sangat terhormat berani berhadapan langsung dengan para pemuda yang sedang berada di puncak kemarahan mereka.

Masih terbayang bagaimana komentar emosional teman-teman terhadap kebijakan pusat yang dinilai tak berperikemanusiaan, yang dianggap memperlakukan rakyat Aceh bagai makhluk najis yang pantas diperlakukan semena-mena. Ruangan acara dipenuhi atmosfir kemarahan, beberapa rekan malah tanpa takut memekikkan kata merdeka dan referendum di hadapan beliau.

Aku sudah membayangkan pastilah beliau menjawab dengan kemarahan pula atau paling tidak menimpakan kesalahan pada rezim pemerintahan sebelumnya. Namun ternyata aku salah. Beliau dengan gayanya yang khas menjelaskan bagaimana sejarah Aceh yang sesungguhnya, yang sebagian besar datanya diperoleh dari sumber-sumber yang selama ini tidak pernah kami ketahui. Diajarkannya kami bagaimana sejarahnya tarian Seudati dan Saman yang  bisa dikatakan puncak dari pencapaian peradaban seni di Aceh.

Setelah berpanjang lebar menjelaskan pada kami tentang sejarah tanah moyang kami sendiri, akhirnya beliau menutup pertemuan dengan pernyataan yang membuat kami tercenung dan tak dapat lagi berkata-kata. Yang masing terngiang hingga saat ini adalah:  ” Wahai kalian-kalian yang mengaku diri kaum muda terpelajar Aceh. Janganlah kalian merasa diri paling benar, sedangkan asal-usulmu sendiri masih banyak yang belum engkau ketahui. Tingkatkan pemahaman kalian tentang negeri nenek moyangmu, sehingga jika kita berkesempatan untuk berdialog kembali, kita dapat berbicara dengan frekwensi pemahaman yang setara”.

Aku terkesima, rekan-rekanku melongo tak mampu berkata-kata. Salah seorang rekan yang diantara kami terkenal sangat vokal dan anti pemerintah sampai mengucapkan sepotong kalimat kepadaku “Sialan, kita bertemu dengan musuh yang super jenius, yang menjadikan kita bagai orang bodoh atas sejarah tanah moyang kita sendiri”. Gus Dur pun menyelesaikan dialognya dengan kegemilangan. Sementara kami yang pada awalnya begitu emosional terpaksa untuk mengakui kekurangan yang ada dipihak kami. Beliau tampil sebgai pemenang.

Gus..

Meskipun kedamaian di Aceh tercipta bukan saat dirimu berkuasa, tapi kami.. Dengan sepenuh hati mengucapkan terima kasih, atas apa yang telah kau berikan untuk kami dan bangsa tercinta ini. Walaupun dalam beberapa hal, pemikiran dan keputusanmu kadang tak mampu untuk ku cerna dengan akal, namun dari lubuk hati terdalam kami merasa kehilangan. Kau pergi, justru disaat bangsa ini tengah gamang menemukan figur yang dapat kami percaya.

Selamat jalan Guru Bangsa, kebesaranmu semakin tampak di saat kau tlah tiada. Semoga Allah mengganjarmu dengan surga, Amien.

Pola yang berubah part II

Desember 16th, 2009 | Tak Berkategori | 5 comments

Kawan..

Mulai hari minggu yang lalu aku pindah tempat tinggal. Kalo sebelumnya di daerah Matraman, sekarang aku menghuni rumah kecilku di kawasan Depok. Tentu saja hal ini membuat jadwalku berangkat kerja juga ikut berubah. Jika sebelumnya aku berangkat pukul 8.30 sambil mengantar anakku ke sekolahnya, kini aku harus menyesuaikan jam keberangkatanku dengan jadwal kereta. Sudah 3 hari ini aku menumpang kereta express jurusan Tanah Abang dengan jadwal keberangkatan jam 7.35 WIB. Jadinya aku harus sudah berangkat dari rumah pada pukul 6 pagi. Kebayang kan kalo biasanya aku baru mandi pukul 7 pagi, sekarang aku harus melakukannya lebih awal, paling lambat pukul 5.45 WIB. Begitu juga jadwal pulang kerja, aku juga harus menyesuaikan dengan jadwal kereta yang penumpangnya sudah tidak berdesak-desakan. Ini membuatku harus tetap stay di kantor sampai pukul 20.30 malam.

Alhamdulillah semua berjalan lancar. Hanya saja kasian kedua putri kecilku, mereka tak sempat lagi mengantar aku berangkat kerja dan saat aku tiba dirumah pukul 22.00 mereka sudah terbuai di alam mimpinya. Selalu ada harga yang musti dibayar untuk setiap keputusan yang kita ambil. Dan kita dituntut untuk dapat menjalankan keputusan tersebut dengan segala kebesaran jiwa.

Pola yang berubah

Oktober 28th, 2009 | Tak Berkategori | 11 comments

Kawan..

Udah lama juga aku gak nge-update blog ini, kasian jadinya blog sederhana ini seperti tak terurus sehingga dipenuhi dengan spam yang tak sempat terhapus, jadinya seperti halaman rumah yang dipenuhi ilalang yang bikin gak nyaman untuk dipandang.

Sejak pindah ke perusahaan yang sekarang sejak tiga bulan yang lalu, memang load kerja agak bertambah dan pola hidup juga jadi berubah. Jam ngantor yang biasanya 8-9 jam, kini menjadi 11-12 jam. Jam 9 malam adalah waktu yang lazim untuk pulang saat ini. Akibatnya adalah sampai dirumah 2 bidadari kecilku sudah terlelap di alam mimpinya.

Biasanya aku makan malam sambil nonton acara di TV, trus dilanjutin dengan merokok di teras sambil membaca majalah, koran atau buku yang ada tersedia. Jam 11 biasanya anakku yang pertama bangun untuk pipis, aku temani dia ke kamar mandi dan membuatkan susu untuknya. Kemudian aku meneruskan menonton sampai pukul 11.30. Begitulah rutinitas kerjaku di ibukota. Melelahkan tapi menjanjikan harapan.. Harapan untuk dapat memaksimalkan potensi diri dan pada akhirnya dapat menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Bukankah manusia yang paling baik adalah dia yang paling berguna bagi sesama..

Sabtu dan minggu adalah hari dimana aku bisa santai sambil menghabiskan waktu dengan istri dan 2 putri kecilku. Oleh karena pola yang berubah ini ditambah kemalasan untuk nulis maka beginilah jadinya, blog tercinta ini menjadi tak terurus.

Terima kasih buat sahabat blogger yang tetap setia berkunjung, insyaAllah saya usahakan untuk membalas kunjungan anda semua.

Salam

Young on Top

September 27th, 2009 | Buku | 20 comments

Kawan..

Sudah pernah memperhatikan buku bersampul kuning dengan judul seperti yang tertera diatas? Memperhatikan judulnya segera saja kita menduga bahwa buku ini merupakan karangan dari penulis luar, apalagi nama pengarangnya adalah Billy Boen, yang notabene agak tidak lazim untuk nama Indonesia. Ternyata buku ini asli ditulis oleh penulis asal negeri sendiri, yang sebagian besar merupakan pengalaman pribadi sang penulis dalam menjalani karir profesionalnya.

Sebagai salah satu buku yang menguraikan tentang rahasia kesuksesan, bahasa buku ini terasa ringan dengan menggunakan perumpamaan2 yang mengena dengan keadaan sehari-hari kita. Pada buku ini Billy Boen berhasil memadukan pengalaman pribadi dengan pengalaman orang-orang sukses lainnya yang bisa menjadi inspirasi dan semangat. Ada ratusan juta bahkan milyaran orang di dunia yang berada dalam dunia kerja, dan masih ada ratusan juta mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja. Dari sekian banyak jumlah diatas, hanya 2% saja dari mereka yang berhasil mencapai karir puncak dan benar-benar sukses. Bagaimana dengan 98% lainnya? Bukankah mereka juga menginginkan kesuksesan? Lalu dimanakah posisi kita saat ini, di golongan minoritaskah atau di kalangan mayoritas? Sepertinya masih diposisi mayoritas nih, karena kita agak segan untuk berbeda dengan orang kebanyakan bukan…:)

Buku ini mencoba menyediakan tool yang dibutuhkan untuk mencapai sukses, masalahnya adalah apakah kita bersedia untuk mengaplikasikan tool tersebut dalam keseharian kita. Buku terbitan Gagasmedia ini memiliki tebal 245 halaman dan dibagi dalam 4 bagian, dimana masing masingnya menguraikan apa-apa yang kita perlukan untuk menuju puncak kesuksesan.

Apa saja yang diuraikan dalam buku ini ? Disini kita akan dapat penjelasan apa yang menjadi kunci sukses yakni :

Do what you love and love what you do,Integrity, Think Big, Confidence, On Time, Ope n Minded Respect, Never Give Up & Just Perform. Semua ini di urai pada bagian pertama.

Pada bagian kedua diuraikan tentang : Detail Oriented, Outside the Box, Positive Thinking, Creativity, Bring Solution not Problem, Do not Assume, Learn from Mistakes, Make a lot of Friend, Fair and Objective, Urgent And Important, Lead and be Team Player dan Fight for Your Time.

Pada bagian ketiga dibahas tentang : The Extra Mile, Powerfull Insting, Negotiation, Humor, Nowhere to Hide, Constuctive Criticism, Humble, Keep Searching, Share and Receive.

Pada bagian terakhir ditutup dengan Up to you, Do it.

Billy Boen berusia 30 tahun, mendapatkan gelar B,Sc dari Utah State University dan MBA dari State University of West Gorgia. Saat ini dipercaya untuk mengawasi tiga perusahaan yang berada di salah satu divisi naungan MRA Grup.

Kenapa tulisan ini aku posting? Karena dengan menuliskannya kita akan lebih bisa mengingat dan memahaminya dibanding dengan hanya membacanya. Semoga dengan membaca buku ini akan ada perubahan yang mendasar dalam menjalani karir profesionalku, sehingga akhirnya dapat berpindah dari golongan mayoritas menjadi kalangan minoritas. Amien..

Man jadda wajada (Catatan tentang Negeri5Menara)

September 23rd, 2009 | Buku | 10 comments

Kawan..

Kemarin aku menyelesaikan membaca buku yang menggugah, mungkin sebagian kalian udah pada familiar dengan judulnya walaupun masih banyak yang belum sempat membacanya. ini aku simpulkan karena belum ada review mengenai buku ini di blog detik tercinta…:).

Pertama-tama yang membuat aku tertarik adalah idiom yang aku pakai sebagai judul tulisan ini. Man jadda wajada. Terus terang idiom ini tak terasa asing bagiku, karena saat masih kecil seringkali terucap dari mulut ibu dan kakakku. Barang siapa yang mau berusaha pasti akan mendapatkan hasilnya. Suatu idiom yang secara tak sadar menjadi penuntun dalam menjalani kehidupan.

Berikutnya adalah gambaran kehidupan ala pesantren. Walaupun aku punya beberapa teman yang lepasan pondok pesantren, dan akupun pernah menghabiskan waktu seharian di sebuah pesantren modern yang ada di kampungku, namun terus terang kehidupan ala pesantren memang sangat asing bagiku. Beberapa kali aku mendengar pengalaman mereka yang dihukum dibotaki karena melakukan pelanggaran seperti menonton bioskop tanpa izin atau berkelahi, namun tetap aku tak paham bagaimana kehidupan yang sebenarnya di pondok. Saat aku SD ada seorang anak dari kampun sebelah yang sekolah ke Pesantren Gontor, masih ku ingat bagaimana pujian dan sanjungan yang diberikan kepadanya diulang-ulang di hadapanku, padahal anaknya sendiri tak pernah dikenal oleh mereka…:)

Buku dengan judul Negeri 5 Menara bercerita tentang pengalaman seorang anak bernama Alif Fikri yang berasal dari kampung yang jauh di kabupaten Agam ditepi Danau Maninjau di Sumatera Barat. Alif bertutur tentang bagaimana mulanya dia merasa dipaksa untuk melanjutkan pendidikan disekolah agama oleh sang bunda tercinta. Seorang ibu yang teguh pedirian dengan tekad kuat akan mempersembahkan keturunan terbaiknya demi kemajuan agama (sesuatu yang telah terkikis pada pikiran orangtua masa sekarang).

Di Pondok Madani (Gontor) di daerah Ponorogo inilah dia harus bersaing memperebutkan 400 kursi dari 2000 pendaftar. Disini dia menemukan teman-teman senasib yang berasal dari berbagai daerah, ada Said dari Surabaya, Atang dari Bandung, Baso dari Makasar, Raja dari Medan dan Dulmajid dari Meduro..:). Teman yang dipersatukan oleh rasa senasib-sepenanggungan untuk dapat menjalani kehidupan pondok yang berat. Ternyata kehidupan pondok benar-benar berat, misalnya mereka diharuskan bisa berbahasa Arab dan Inggris dalam waktu 3 bulan. (Sesuatu yang hampir mustahil menurutku, karena aku yang telah 15 tahun belajar bahasa Inggis sampai sekarangpun masih belum ada kemajuan..:). Disinilah kata-kata mantra diatas terbukti. Dengan upaya yang sungguh sungguh ternyata hal itu bisa dicapai.

Pengalaman selama empat tahun di pondok dipenuhi dengan cerita enam bulan pertama dan enam bulan terakhir, karena dimasa inilah yang paling mengesankan, dimana masa awal adalah masa mereka dipimpin dan masa2 akhir adalah saat mereka yang menjadi pemimpin. Selama empat tahun ini mereka mendapatkan pelajaran penting bukan hanya tentang ilmu yang ada dikurikulum pondok, namun juga bagaimana mereka menyaksikan keikhlasan para kyia dan ustad yang mengasuh mereka. Bagaimana seorang ustad yang telah bergelar Doktor dari Al Azhar  rela mengabdi tanpa bayaran untuk pesantren ini, seperti yang dikatakan sang Ustad bahwa dia telah mewakafkan dirinya untuk kepentingan Pesantren, masyaAllah. (ya Allah, betapa jauh jarak antara aku dan Engkau, karena aku masih senantiasa melakukan hitung-hitungan dengan-Mu).

Aktivitas yang dimulai dari pukul 4.30 pagi hingga berakhir pukul 21.30 malam dipenuhi dengan kegiatan2 yang benar-benar bermanfaat. Terus terang, aku pernah merasakan saat-saat berat dalam proses menuntut ilmu, namun jika dibanding dengan mereka, harus aku akui jika ternyata upaya yang aku lakukan masih belum pantas untuk diperbandingkan dengan mereka yang rata-rata masuk ke pondok setelah tamat SMP. Cerita tentang bagaimana mata-mata pondok senantiasa mengawasi untuk mendisiplinkan mereka karena kesalahan kecil seperti memotong antrian mandi, makan ataupun karena menggunakan bahasa selain Arab dan Inggris menjadi bagian yang mengasikkan dalam buku ini.

Sebagaimana pada cerita Laskar Pelangi, terdapat juga keharuan pada cerita ini, terutama saat ada diantara temannya yang harus pulang disaat-saat terakhir karena harus merawat neneknya yang sakit. Walaupun keharuan pada buku ini tak sempat membuatku meneteskan air mata sebagai mana saat Lintang harus meninggalkan bangku sekolahnya di buku Laskar Pelangi, atau saat Jimbron menyerahkan celengan kudanya kepada Ikal dan Arai di buku Sang Permimpi. Untuk yang ini A. Fuadi masih harus belajar pada Bung Andrea Hirata. Hanya saja, keunggulan buku ini terletak pada jalan cerita yang terasa sangat natural, tidak seperti yang terjadi pada Laskar Pelangi dengan kecerdasan Lintang yang tak masuk akal (mohon maaf Bung Andea..:).

Membaca buku ini, membuat kita mempertanyakan kembali tentang apa sebenarnya yang menjadi tujuan kita dalam hidup, mengingatkan kita akan dangkalnya pemahaman kita atas agama yang kita anut, serta menggugat sifat hedonis dan materialis yang selama ini menggerogiti sumsum kehidupan kita. Membaca buku ini juga membangkitkan semangat kita bahwa kita semestinya tak perlu takut untuk bermimpi, karena selama kita senantiasa berusaha keras untuk mewujudkannya, Insya Allah mimpi2 itu akan berbuah realita.

Buku ini merupakan buku pertama dari Trilogi yang direncanakan, sang pengarang yang merupakan bekas wartawan Tempo telah melakukan tugasnya dengan sangat baik dengan cara penulisannya yang sangat mempesona yang membuat aku tak rela melepas buku ini sebelum habis kubaca dan aku sudah tak sabar untuk membaca lanjutan kisahnya.

Akhirnya hanya ini yang dapat aku katakan :

Negeri5Menara : A MUST READ BOOK!!!!!!

Salam

Gempa di Lantai 14

September 4th, 2009 | Realita | 15 comments

Kawan..

Kali ini aku mau nulis tentang gempa yang terjadi 2 hari yang lalu. Saat itu pukul 3 kurang 5 menit. Di jam-jam segitu biasanya penyakit kantuk lagi senang-senangnya menghampiri. Tapi hari itu aku sedang banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, dan saat seorang rekan sedang berdiri dibelakangku untuk mendiskusikan masalah pekerjaan, tiba-tiba aku merasa ada yang tidak biasa sedang terjadi. Badanku terasa terayun, mula-mula perlahan namun terus meningkat menjadi semakin kencang.

Reaksi teman-teman dilantaiku juga beragam, ada yang beristigfar, ada yang berteriak mengabari bahwa sedang terjadi gempa, dan ada yang berusaha bersikap tenang menghadapinya. Aku salah satu yang berusaha bersikap tenang, dimana dideretan meja kerjaku yang diisi 8 orang satu persatu berhamburan keluar dari gedung melalui tangga darurat. Saat itu aku berfikir bahwa tak ada gunanya untuk turun, karena aku takkan mencapai lantai dasar jika harus melalui tangga darurat, jadinya aku hanya berjaga-jaga atas kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Saat gempa mencapai kekuatan puncaknya, aku memasrahkan segalanya pada Allah SWT, karena dilantai tempatku berada ayunan mendekati puncaknya, dimana kami menempati lantai 14 dari 17 lantai yang ada di gedung perkantoran yang kami tempati. 

Ilmu yang kupelajari  selama kuliah di Teknik Sipil selama 7 tahun ternyata sedikit bisa menenangkan hatiku, karena dari ilmu yang diajarkan di kampus aku cukup yakin dengan kekuatan dari kolom penyangga dan plat lantai yang menopang bangunan yang kutempati, serta perhitungan momen lentur dari setiap pekerjaan konstruksi pastinya telah diapplikasikan dalam pembangunan gedung yang aku tempati. Namun itu berlaku untuk gempa dengan kekuatan dibawah 8 SR, jika skala gempa di atasnya tak tahu apa yang bakal terjadi.

Ternyata keputusan untuk tidak panik merupakan tindakan yang tepat. Disaat yang lain berdesak-desakan di tangga darurat dan berlomba untuk dapat mencapai lantai dasar secepat mungkin, aku mencoba untuk tenang membaca situasi dari tempat aku duduk. Saat getaran gempa telah tidak lagi terasa, aku baru mulai menuruni tangga yang sudah sepi. Perjalanan turun kami adalah perjalanan santai, walaupun terasa sekali jika saat itu lantai dasar terasa lebih jauh dari biasanya. Walaupun turunnya dilakukan dengan santai, namun karena lantai yang dituruni cukup banyak, maka sampai hari ini otot betisku masih terasa sakit.

Satu hal yang ada dalam pikiran saat gempa yang begitu kuat mengguncang adalah, betapa lemahnya diri, betapa tak berdayanya manusia dihadapan kekuasaan Dia Sang Pencipta. Semoga kejadian ini memberikan hikmah dan menjadikan aku lebih mendekat kepada-Nya. Amien..