Kawan..
Tahun 2009 ditutup dengan kabar yang cukup mengagetkan kita semua. Saat sedang meeting di kantor, tiba-tiba handphone ku bergetar, sebuah SMS masuk mengabarkan bahwa Gus Dur telah berpulang. Spontan aku mengucap Innalillah wa inna ilaihi rajiun. Si bos bertanya, “siapa yang meninggal?”. “Gus Dur!” jawabku. Semua yang diruangan terdiam sejenak dan masing-masing larut dalam doa di hatinya.
Semua kita pasti punya kesan masing-masing mengenai tokoh yang satu ini. Namun bagiku terasa ada yang agak berbeda. Mengapa? Karena dialah satu-satunya mantan presiden yang pernah aku temui lansung saat beliau masih menjabat. Pertemuan terjadi bukan di Istana Negara yang olehnya dirubah dari semula sangat protokoler menjadi rumah rakyat yang boleh dimasuki oleh rakyat kebanyakan. Namun yang mengesankan adalah aku dan teman-teman bertemu beliau dalam suatu acara pertemuan Mahasiswa Aceh Perantauan yang diselenggarakan di Bandung tahun 2001.
Apa yang paling berkesan buatku adalah caranya yang sangat efektif menaklukkan kami. Aku ingat bagaimana saat itu mayoritas dari teman-teman sangat anti kepada pemerintah pusat, kehadirannya sendiri membuatku kagum. Bagaimana seorang presiden yang sangat terhormat berani berhadapan langsung dengan para pemuda yang sedang berada di puncak kemarahan mereka.
Masih terbayang bagaimana komentar emosional teman-teman terhadap kebijakan pusat yang dinilai tak berperikemanusiaan, yang dianggap memperlakukan rakyat Aceh bagai makhluk najis yang pantas diperlakukan semena-mena. Ruangan acara dipenuhi atmosfir kemarahan, beberapa rekan malah tanpa takut memekikkan kata merdeka dan referendum di hadapan beliau.
Aku sudah membayangkan pastilah beliau menjawab dengan kemarahan pula atau paling tidak menimpakan kesalahan pada rezim pemerintahan sebelumnya. Namun ternyata aku salah. Beliau dengan gayanya yang khas menjelaskan bagaimana sejarah Aceh yang sesungguhnya, yang sebagian besar datanya diperoleh dari sumber-sumber yang selama ini tidak pernah kami ketahui. Diajarkannya kami bagaimana sejarahnya tarian Seudati dan Saman yang bisa dikatakan puncak dari pencapaian peradaban seni di Aceh.
Setelah berpanjang lebar menjelaskan pada kami tentang sejarah tanah moyang kami sendiri, akhirnya beliau menutup pertemuan dengan pernyataan yang membuat kami tercenung dan tak dapat lagi berkata-kata. Yang masing terngiang hingga saat ini adalah: ” Wahai kalian-kalian yang mengaku diri kaum muda terpelajar Aceh. Janganlah kalian merasa diri paling benar, sedangkan asal-usulmu sendiri masih banyak yang belum engkau ketahui. Tingkatkan pemahaman kalian tentang negeri nenek moyangmu, sehingga jika kita berkesempatan untuk berdialog kembali, kita dapat berbicara dengan frekwensi pemahaman yang setara”.
Aku terkesima, rekan-rekanku melongo tak mampu berkata-kata. Salah seorang rekan yang diantara kami terkenal sangat vokal dan anti pemerintah sampai mengucapkan sepotong kalimat kepadaku “Sialan, kita bertemu dengan musuh yang super jenius, yang menjadikan kita bagai orang bodoh atas sejarah tanah moyang kita sendiri”. Gus Dur pun menyelesaikan dialognya dengan kegemilangan. Sementara kami yang pada awalnya begitu emosional terpaksa untuk mengakui kekurangan yang ada dipihak kami. Beliau tampil sebgai pemenang.
Gus..
Meskipun kedamaian di Aceh tercipta bukan saat dirimu berkuasa, tapi kami.. Dengan sepenuh hati mengucapkan terima kasih, atas apa yang telah kau berikan untuk kami dan bangsa tercinta ini. Walaupun dalam beberapa hal, pemikiran dan keputusanmu kadang tak mampu untuk ku cerna dengan akal, namun dari lubuk hati terdalam kami merasa kehilangan. Kau pergi, justru disaat bangsa ini tengah gamang menemukan figur yang dapat kami percaya.
Selamat jalan Guru Bangsa, kebesaranmu semakin tampak di saat kau tlah tiada. Semoga Allah mengganjarmu dengan surga, Amien.