Feed on
Posts
Comments

Twitter

Kawan..

Sudah lama gak nge-blog ternyata bikin kangen juga. Ada banyak macam alasan yang bisa diutarakan untuk membenarkan kemalasan ini. Yang terlalu sibuk lah,  gak punya waktu lah, diganggu anak-anak lah, apalagi saat ini sedang demam piala dunia, maka sempurnalah alasan untuk tidak melakukan postingan. Tetapi ternyata panggilan itu tak bisa dipungkiri. Panggilan untuk menorehkan tulisan di blog tercinta, untuk mengabarkan pada dunia bahwasanya diri ini masih ada dan postingan ini adalah hasilnya.

aku hanya ingin mengabarkan bahwa saat ini aku sedang kecanduan terhadap micro blogging yang bernama twitter, mestinya telah lama saya mengetahui situs pertemanan ini, namun tak pernah tergoda hingga bulan lalu, dan ternyata aku jatuh cinta pada nya.

Tak seperti FB yang sempat bikin terpesona pada awalnya, dimana kita bisa menemukan teman-teman dari zaman baheula, tapi pada akhirnya membuat kita bosan dengan hal remeh temeh yang di post kan teman2 FB kita. Twitter sama sekali berbeda. Asalkan kita bisa memilih orang yang kita follow. Banyangkan, setiap hari mendapat pencerahan dari Komaruddin Hidayat, Goenawan mohammad dll dalam kalimat singkat yang hanya 140 karakter namun penuh makna. Dan mengikuti postingan mereka seperti mengikuti kuliah singkat dari para pakar dibidangnya.

Hanya saja kesulitan yang kita hadapi adalah saat mengupayakan follower kita, karena tak gampang membuat orang merasa perlu mem follow kita jika kita tak bisa menampilkan sesuati yang berbeda. Buat  kawan-kawan yang belum sempat merasakan kenikmatan twitter, saran saya bergabunglah dan rasakan sensasi kecanduan yang sama.

Salam.

Note : bahagianya bisa posting lagi..:)

OWALAAAHHH

KRINGGGGG~~~ KRINGGG~~ ~KRINGGGG~ ~!!!”, bunyi telepon.

“Halo, selamat siang”, jawab seorang wanita setengah baya.
“Lho, siapa ini?”, terdengar sahut suara berat seorang pria.
“Oh, saya pembantu baru di sini Pak. Saya baru kerja. Baru datang siang ini.”

“Kalau begitu, Ibu mana?”
“Ibu sedang di kamar tidur Pak.”
“Kalau begitu tolong panggilkan.”
“Maaf Pak, Bapak siapa yah?”
“Saya suaminya.”

“Hah, lha wong Ibu di kamar sama Bapak kok?!”, si pembantu kaget
“Apaaaa ?!?!?!” si Bapak lebih kaget lagi.
Si pembantu jadi bingung.

“Nama kamu siapa?” tanya si Bapak lagi.
“Nama saya inem, Pak.” jawab si Inem dengan gemetar.
“Inem, seperti apa laki-laki yang di kamar dengan ibu?”
“Rambutnya ikal, Pak. Dan pakai kaca mata.”, jawab Inem dengan terbata-bata.

“KURANG AJAR !!! Pasti si Johan itu. INEM !!!”, teriak Bapak.
“Ya Pak?”
“Coba kamu intip, sedang apa mereka?”
“Aduh Pak, saya ngga berani”
“HEH !!! Saya Tuanmu tau !!! Cepat sana liat !!! Kalau tidak saya pecat kamu.”

Dengan lutut gemetar, Inem berjalan sambil mengendap-endap menuju kamar majikannya. Dengan tangan gemetar dibuka pintu kamar itu dengan sangat hati-hati agar tidak diketahui orang yang di dalam. Setelah itu dia melihat keadaan didalam dan langsung ke telpon lagi.

“Halo Pak…”
“Yah, apa yang terjadi disana?” jawab Bapak dengan tidak sabar.
“Anu, Pak…”
“ANU APA ?! CEPAT CERITAKAN !!!” bentak si Bapak.

“Ibu sama laki-laki itu sedang tidur, Pak”
“Cuma tidur?” tanya si Bapak lagi dengan tidak sabar.
“Mereka berdua sedang tidur tapi tidak pakai baju.”
“APA ?!?!?! KURANG AJAR !!! SUDAH SAYA DUGA !!!
“DASAR ISTRI SIALAN !!!!”, maki si Bapak.

“INEM !!!”, panggil si Bapak lagi dengan teriak tentunya.
“Iya Pak”
“Cepat ambil tali dan ikat tangan dan kaki mereka berdua, CEPAT !!!”
“Aduh Pak, kalau ini saya benar-benar nggak berani Pak”, jawab Inem dengan suara yang hampir menangis.
“Dasar kamu bodoh !!! Hayo cepat laksanakan nanti saya kasih uang 1 juta” perintah si Bapak dengan tidak sabar.

Karena diiming-imingi uang, timbul keberanian si Inem. Langsung diletakkan gagang teleponnya dan larilah dia ke dapur untuk mencari tali. Setelah didapatkan talinya dengan mengendap-endap Inem masuk ke kamar majikannya. Dengan sangat hati-hati agar tidak terbangun, pertama dia ikat tangan si Pria lalu kakinya.

Kemudian dia ikat tangan dan kaki si Ibu. Tapi sial, karena gugup tanpa sadar si Ibu terbangun. Melihat Keadaan dirinya yang di ikat, si Ibu teriak: “INEM. APA YANG KAMU LAKUKAN ?! Kamu mau merampok yah ?!”

“Maaf Bu, saya disuruh Bapak.” langsung si inem lari ke arah telpon, meninggalkan nyonya majikannya yang berteriak-teriak dengan marahnya dan si Pria yang mulai terbangun juga.

“Pak, sudah saya ikat Pak” lapor si Inem dengan ngos-ngosan.
“Bagus, sekarang ambil kamera di meja kerja saya …”
“Meja kerja Bapak dimana?”, potong si Inem.
“Gimana sih kamu ini. Itu yang di bawah tangga.”
“Tangga???” si Inem kebingungan

“Di rumah ini kan ngga ada tangganya, Pak. Nggak ada tingkat.”, timpal Inem.

Hening sesaat.

“Berapa nomor telpon ini?”, tanya si Bapak
“89020xx, Pak”, jawab si Inem dengan polos.

“Oh, Maaf ternyata saya salah sambung.”

Older Posts »